Rabu, 23 Juni 2010

Wong Fei Hung Seorang Muslim Yang dikaburkan

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin

: http://all-mistery.blogspot.com/2010/01/wong-fei-hung-seorang-muslim.html:

Bagaimana anak Palestina bisa mendapat Pendidikan yang layak sedang mereka terus dipenjara

Nasib warga Palestina di Tepi Barat tak jauh berbeda dengan warga Palestina di Jalur Gaza, sama-sama hidup bak di penjara. Blokade total membelenggu Jalur Gaza. Tembok pemisah dan ratusan pos pemeriksaan militer Israel mencekik kehidupan warga Tepi Barat.
Ada anekdot di Tepi Barat. Perjalanan dari Ramallah ke Nablus yang berjarak 80 km butuh waktu minimal 7 jam, lebih lama ketimbang penerbangan dari Ramallah ke London.

Jika warga ingin bepergian dari satu kota ke kota lain di Tepi Barat, mereka harus melewati puluhan pos pemeriksaan militer di mana mereka menjalani pemeriksaan ketat dan interogasi secara detail. Di setiap pos itu warga harus antre panjang. Perlu waktu berjam-jam untuk mendapat giliran diperiksa dan diinterogasi.

Saat antre, warga kadang harus rela kehujanan dan kedinginan di musin dingin, atau gerah di musim panas. Pada setiap pos itu, warga harus menunjukkan identitas dan surat izin bepergian yang dikeluarkan Israel.

Keberadaan pos pemeriksaan, dibangunnya tembok pemisah Israel-Palestina, serta adanya puluhan permukiman Yahudi membuat Tepi Barat terkotak-kotak. Melintasi dari satu blok ke blok lain bak melintas beberapa negara.

Saat giliran diperiksa dan diinterogasi, setiap warga ditanyai dari mana, mau ke mana, kapan pergi, kapan kembali? Saat diperiksa, warga sering mendapat pelecehan atau provokasi dari serdadu Israel.

Warga Tepi Barat harus melewati pintu elektronik yang mendeteksi barang dan diminta melepas baju kecuali celana dalam.

Ini harus dilalui walau warga bepergian ke kota atau desa lain hanya untuk menengok saudara, keluarga. Warga tidak dapat bepergian ke suatu kota atau desa yang dinyatakan sebagai daerah militer Israel. Jika memaksakan diri, warga bisa ditangkap atau ditembak.

Warga harus siap selalu melihat kota atau desanya diobrak-abrik. Warga tidak pernah bisa tidur nyenyak.

Isam Ahmed, seorang kartunis Palestina asal Bethlehem, kepada harian Asharq Al Awsat mengungkapkan, ia juga mengalami semua itu ketika ingin bepergian dari Bethlehem ke Ramallah yang berjarak 40 km, yang harus ditempuh minimal tiga sampai lima jam.

Ahmed menuturkan, panjang antrean kendaraan di pos pemeriksaan bisa mencapai dua kilometer. Derita Ahmed adalah potret derita 1,7 juta jiwa penduduk Palestina di Tepi Barat.

Beberapa lembaga hak asasi manusia Palestina menemukan puluhan kasus orang sakit yang hendak menuju rumah sakit akhirnya meninggal di perjalanan. Kadang seorang wanita hamil harus melahirkan di pos pemeriksaan.

Laporan Departemen Kesehatan Palestina menyebutkan, sejak tahun 2000 hingga 2007 ada 68 kasus wanita hamil melahirkan di jalan raya, 34 wanita keguguran di tengah jalan, dan 4 wanita hamil meninggal dunia. Serdadu Israel mengabaikan imbauan agar memberi prioritas kepada wanita hamil.

Terdapat pula 137 warga Palestina yang sakit, meninggal dunia di tengah jalan karena serdadu Israel tidak mengizinkan ambulans mengambilnya untuk dibawa ke rumah sakit.

Cerita tembok pemisah yang dibangun di Tepi Barat sejak era PM Ariel Sharon tahun 2002 menambah beban. Tembok pemisah itu dicanangkan memiliki panjang 786 km dan terentang dari sekitar kota Jenin di utara ke Hebron di selatan.

Tembok itu telah membuat terpencil 343.000 warga. Tembok itu juga memisahkan keluarga. Pembangunan tembok itu telah mencaplok sekitar 43 persen tanah Tepi Barat.

Tembok itu memisahkan wilayah Tepi Barat. Ada blok wilayah utara yang meliputi kota Jenin, Nablus, dan Tul Karem. Blok wilayah tengah meliputi Ramallah dan Salfit. Blok wilayah Selatan mencakup Bethlehem dan Hebron.

Selain itu ada blok terpencil, yaitu kota Jericho dan Kalkiliya, yang dikelilingi tembok pemisah dan hanya ada satu pintu masuk dan keluar dua kota tersebut yang dijagai serdadu Israel.

Badan statistik Palestina mengungkapkan, hanya 5 persen sumber air di Tepi Barat yang dikuasai Palestina. Hal itu membahayakan lahan pertanian Palestina di wilayah tersebut. Misalnya Desa Gayush di Tepi Barat kini telah kehilangan 70 persen lahan pertanian karena kurangnya air dan pencaplokan demi pembangunan tembok.

Banyak juga penduduk kota Tulkarem dan desa sekitarnya yang sudah kehilangan mata pencarian. Angka pengangguran meningkat tajam.

Mahkamah internasional dan PBB telah mengutuk tindakan Israel membangun tembok pemisah yang dinyatakan ilegal. Masyarakat internasional, termasuk AS, juga mengkritik tersebarnya pos pemeriksaan.

Sepanjang sejarah Israel, yang berdiri tahun 1948, negara ini memang tidak pernah peduli pada perintah dan keputusan PBB. Israel terus seperti berlagak berada di atas hukum jika menyangkut wilayahnya.(kompas)

Indonesia dan Pendidikan Warganya.....

Ketua Gerakan “Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK) sebuah LSM di tanah air menyebutkan bahwa berdasarkan hasil survey yang dilakukan selama 2010, masyarakat Indonesia berada pada urutan ke empat di dunia yang suka membuka internet untuk situs pornografi.
“Pada tahun 2008 dan 2009, Indonesia berada pada urutan ke tiga dari beberapa negara di Asia setelah Vietnam, Kroasia dan beberapa negara Eropa lainnya,” kata Ketua Gerakan JBDK pusat, Peri Umar Farouk, saat tampil sebagai nara sumber pada sosialisasi Undang-Undang Nomor:44/2008 tentang pornografi di Kendari, Rabu.

Kegiatan advokasi dan edukasi terkait sosialisasi UU Pornografi itu difasilitasi oleh Dinas Perhubungan Sultra bekerjasama dengan Direktorat Kelembagaan Komunikasi Pemerintahan, Kementerian Komunikasi dan Informatika pusat.

Menurut Peri, sosialisasi tentang UU Pornografi dipandang sangat penting, karena selama UU Nomor: 44/2008 itu lahir seakan-akan masyarakat belum tahu apa pengaruh UU itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama berkenan dengan masih maraknya fenomena pornografi di tanah air dampak dari teknologi internet.

Ia mengatakan, kegemaran masyarakat indonesia yang mengakses dengan kata kunci “sex” pada jaringan internet, penggemarnya selain dari kalangan remaja dengan usia antara 14-26 dan 30-45 tahun merata di seluruh daerah di Indonesia, dengan mengakses selain di warung telekomunikasi (warnet) juga dari perkantoran.

“Meski dalam UU pornografi itu menyebutkan bahwa yang tidak terjerat dalam hukum pidana adalah membuat, memiliki atau menyimpan materi pornografi untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri namun, dengan pertimbangan lain, setiap individu secara sukarela lebih aman membebaskan diri atau menjauhkan untuk tidak membuka situs pornografi,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Peri Umar, untuk tidak lebih meluasnya penggunaan internet yang mengakses situs berbau pornografi, pemerintah dan masyarakat wajib melakukan pencegahan pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi (pasal 17) dalam UU Pornografi tersebut.

Artinya bahwa, masyarakat yang melaporkan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal itu berhak mendapatkan perlindungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Warga masyarakat yang melakukan pelanggaran apakah itu yang memproduksi, membuat dan memperbanyak dan menyebarluaskan maka sanksi pidana penjara paling singkat enam bulan dan paling lama 12 tahun atau denda paling sedikit Rp250 juta dan paling banyak Rp6 miliar,” katanya.

Oleh karena itu, kata Peri Umar, dengan kegiatan sosialisasi UU pornografi tersebut, meskipun sifatnya sangat singkat tetapi pemahaman terhadap pornografi khususnya bagi peserta yang ikut pertama kali ini bisa menyosialisasikan kepada orang lain ataukah tetangga terdekatnya.

Sudah saatnya, bagi lingkungan kerja, perusahaan atau koperasi membuat kebijakan-kebijakan dalam profesionalitas badan kepegawaiannya, yang berkaitan erat pencegahan pornografi di lingkungan kerjanya.

“Bila perlu cantumkan pemberian sanksi yang berat untuk penyalagunaan fasilitas kantor berkenaan pornografi,” katanya.

Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat yang juga mantan potisi di DPRD Sultra, Kadir Ole mengatakan, mendukung langkah pemerintah dan masyarakat terkait dengan pemberlakuan UU pornografi dan sekaligus pemberian sanksi bagi mereka yang terbuka menggunakan akses internet untuk membuka situs pornografi.

Menurut Kadir, sebagai warga negara yang khawatir terhadap menggejalanya pornografi di tengah-tengah kehidupan masyarakat, layak untuk menuntut pemerintah serius dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan dan penindakan tindak pidana pornografi.

“Dengan kegiatan sosialisasi ini, tentu akan memberi nilai positif bagi proses pencegahan dan pelarangan terutama bagi anak-anak remaja kita yang kerap bersinggungan dengan industri teknologi informasi melalui komputer. Lebih berbahaya adalah anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD) dan SLTP yang tahu membuka jaringan internet,” katanya.

Setiap orang tua bangga bila anaknya yang pada usia dini sudah membuka internet, tetapi mereka menghadapi bahaya terkait maraknya video mesum mirip artis papan atas Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Semua orang tua was-was bila anaknya ke warnet lalu membuka internet pornografi tersebut. (antara)

Selasa, 08 Juni 2010

Mengapa harus bela Palestina

OptionsDisable Get Free Shots
Kajian Timur Tengah
BerandaDaftar JudulHak CiptaTentang PenulisJuni 5, 2010 Mengapa Harus Bela Palestina Sementara Banyak Orang Susah di Sini?
Mengapa kita harus repot-repot membela Palestina nun jauh di sana? Bukankah di negeri ini begitu banyak kesengsaraan? Lihatlah berita televisi, melulu tentang Gaza. Kasus Sri Mulyani dan Bank Dunia terlupakan, Century lewat, Lapindo lewat (lihatlah TVOne, milik Ical, sangat gencar memberitakan tentang Gaza, sampai-sampai kita lupa pada saudara-saudara kita di Sidoarjo sedemikian sengsara akibat lumpur Lapindo).

Menjawab kegundahan ini, saya pikir, kita orang Indonesia harus think globally, act globally plus locally. Pembelaan terhadap Palestina, pada hakikatnya adalah sikap melawan tirani dunia dan menjadi pemisah mana negara budak, mana negara merdeka. Negara-negara yang tidak takut kepada AS akan maju secara aktif membela Palestina. Sebaliknya, Indonesia, yang jelas-jelas tunduk dan patuh pada IMF dan Bank Dunia, dan sangat pro AS, terlihat tak berani melakukan langkah konkrit (selain menyeru dan mengutuk). Secara sinergi, kepatuhan pada tiran-tiran dunia itu juga terimplementasikan pada kebijakan-kebijakan dalam negeri.

Pembangunan ekonomi yang berbasis hutang (bahkan baru-baru ini SBY menandatangani perjanjian hutang 800 juta dollar untuk menangani perubahan iklim! Gila utang 1600T aja entah kapan lunasnya, masih nambah lagi!) adalah contoh konkrit betapa Indonesia sudah diperbudak oleh kekuatan-kekuatan tiran. Inilah yang dimaksud oleh Yudi Latif saat dia komentar di tivi, “Sri Mulyani adalah seorang yang cerdas dan profesional, tapi dia secara sadar berada dalam posisi sebagai pelaksana kepentingan asing.” (ini bukan benci SMI ya, tapi, kebetulan krn menkeunya dulu SMI, terpaksa saya kutip lagi. Kalau nanti Agus Marto juga terbukti sebagai pelaksana kepentingan asing, tentu saja akan nulis juga soal Agus Marto). Para pejabat negeri ini, kebanyakan adalah pelaksana kepentingan asing karena kenyataannya, sebagian besar sumber-sumber ekonomi negeri ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing; bahkan uang untuk membiayai roda pemerintahan negeri ini pun sumbernya hutang dari asing.

Dan Rezim Zionis masih berdiri hingga hari ini dengan ditopang oleh suplai dana yang sangat-sangat besar dari perusahaan-perusahaan asing itu; yang mengeruk uang dari negara-negara miskin dan berkembang (termasuk Indonesia). Sudah banyak diketahui umum bahwa perusahaan-perusahaan terkemuka di AS—negara pendukung utama Rezim Zionis—dimiliki oleh para pengusaha Zionis. Mereka melebarkan bisnis ke berbagai penjuru dunia dan dengan cara-cara yang curang, mengeruk uang dari negara-negara berkembang. John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man menceritakan modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang:

Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.

Keuntungan besar yang mereka peroleh itu, ujung-ujungnya, digunakan untuk menopang kelangsungan hidup Rezim Zionis. Sejak tahun 1973, AS telah mengirimkan bantuan keuangan untuk Israel senilai lebih dari 1,6 trilyun dollar! (dan dari sudut ini, rakyat jelata AS pun sebenarnya terjajah: uang pajak mereka yang harusnya digunakan untuk peningkatan kesejahteraan justru disumbangkan secara rutin ke Israel).

Ketika orientasi pemerintah bukan pada rakyat, tetapi pada kekuatan tiran (perusahaan transnasional, IMF, Bank Dunia, dll), tak heran bila sedemikian banyak kesengsaraan ada di negeri ini. Maka, yang harus dilawan pertama-tama adalah kekuatan tiran itu. Inilah yang diingatkan oleh Imam Khomeini lebih dari 20 tahun lalu: Israel itu bagai tumor ganas dalam ‘tubuh’ dunia. ‘Penyehatan’ dunia hanya bisa dilakukan dengan mencerabut pangkal masalahnya.

Jadi, tak perlu kita pertentangkan pembelaan kepada Palestina dengan membantu saudara-saudara kita di Lapindo. Justru keduanya harus sama-sama kita perjuangkan. Dan media, seharusnya konsisten dalam hal ini, berita yang mengawal Century dan Lapindo tetap gencar; begitu pula berita Gaza. Jangan jadikan Gaza sekedar alat untuk mengalihkan perhatian publik dari kebobrokan pemerintah negeri ini.

1 Komentar
Filed under Indonesia, Indonesia-Israel, Palestina

Juni 4, 2010 Irlandia, Rachel Corrie, dan Gaza
Irlandia

Banyak yang menolak membela Palestina karena alasan agama (Palestina dianggap sebagai perjuangan kaum muslim, sehingga orang-orang beragama lain tak merasa perlu ikut-ikutan); bahkan sebagian kaum muslim pun menolak membela Palestina dengan alasan perjuangan Palestina adalah perjuangan orang2 fundamentalis, Arab, dan dikaitkan dengan terorisme.

Tapi pembantaian di atas kapal Mavi Marmara membuktikan kepada dunia, bahwa masalah Palestina bukanlah masalah kaum muslim belaka, melainkan masalah umat manusia; masalah kemanusiaan, masalah HAM, masalah nurani, masalah kejahatan perang yang telah 60 tahun lebih dibiarkan terjadi oleh komunitas internasional…

Irlandia, adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas Katolik Roma. Pada 14 Mei 2010, dari pelabuhan Irlandia, sebuah kapal berisi bantuan kemanusiaan memulai perjalanan panjang menuju Gaza. Kapal itu diberi nama “Rachel Corrie”. Sebagian penumpang kapal adalah para aktivis bule, seperti Mairead Corrigan-Maguire (seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Irlandia Utara), Dennis Halliday (mantan diplomat senior PBB asal Irlandia). Bahkan Perdana Menteri Irlandia Brian Cowen menyebut “MV Rachel Corrie sebagai kapal milik Irlandia dan kapal itu patut diizinkan untuk merampungkan misinya.”

Kegagalan enam kapal misi kemanusiaan mancanegara mencapai Gaza akibat serangan brutal Israel hari Senin (31/5) tidak menyurutkan semangat para aktivis. Mereka berjanji untuk kembali mencoba menembus blokade Israel terhadap Gaza .

Pembelaan Irlandia kepada Palestina tidak terjadi sekarang-sekarang saja. Sejak lama mereka aktif menyuarakan pembelaan itu. Misalnya, Juni 2009, beberapa politikus Irlandia mengirim petisi agar Eircom selaku perusahaan telkom nasional negeri itu menolak proposal yang diajukan konsorsium pimpinan IBM, lantaran konsorsium tersebut membawa serta Amdocs untuk menangani billing system. “Konsorsium yang menggandeng Amdocs kami persilakan mundur dari kontrak dengan Eircom. Sebab perusahaan itu penyokong kebijakan pertahanan Israel, yang membunuh 1.400 orang Palestina dalam invasinya ke Jalur Gaza,” ungkap Kevin Squire, juru bicara Kampanye Solidaritas Palestina-Irlandia (IPSC) dan Gerakan Anti-Perang Irlandia. (Lengkapnya baca di sini.)


Tapi kita yang mayoritas muslim -dengan Menkominfo dari partai Islam-malah menerima saja Amdocs beroperasi di Indonesia (selengkapnya baca di sini)

Rachel Corrie

Kapal Irlandia bernama MV Rachel Corrie itu seolah menyalakan lagi semangat seorang perempuan muda yang gugur di Rafah tujuh tahun silam, bernama Rachel Corrie. Saat itu, Rachel baru berusia 23 tahun. Ia terlahir sebagai seorang Kristiani. Sejak kecil dia sangat peduli kepada kemanusiaan. Ketika besar, dia bergabung dalam International Solidarity Movement (ISM) yang berjuang dalam aksi damai untuk menghentikan penjajahan Israel terhadap Palestina. Suatu hari di tanggal 16 Maret 2003, Rachel berusaha menghalang-halangi sebuah buldozer yang akan menghancurkan sebuah rumah milik warga Palestina. Tentara Israel pengendali buldozer itu tak peduli, dan terus merangsek. Tubuh Rachel hancur..
“Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembalilah ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain pada usia 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.” [Goenawan Mohamad, pengantar di buku Let Me Stand Alone].

Dan kapal MV Rachel Corrie seolah sedang menjawab ‘doa’ Goenawan.. Rachel seolah sedang kembali dari surga dan melanjutkan lagi perjuangannya…

Inilah rekaman video saat Rachel usia 10 tahun, menyuarakan kepeduliannya kepada kemanusiaan…
dari Dina Sulaiman Blogs

sukarno

Ahad kemarin (6 Juni) adalah hari lahir tokoh besar Indonesia, Soekarno. Hingga kini, belum ada yang bisa menandingi sosoknya yang begitu banyak dibicarakan dunia pada masanya. Dia dikagumi dan dipuja negara-negara di tiga benua, Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bahkan, di Eropa Timur pun nama Soekarno sangat populer dan harum.

Kebangkitan negara-negara Amerika Latin pada awal milenium ini menurut pengakuan para pemimpin mereka juga karena diinspirasikan oleh Soekarno: menolak kapitalisme yang mengisap habis darah negara-negara kaya sumber daya alam, tapi lemah dalam dana dan tekhnologi. Diawali Chaves dan Moralles, menyusul Presiden Paraguay Lugo mengaku penganut ajaran Soekarno.
Jelas, Soekarno pada masanya adalah tokoh yang menggetarkan dunia. Ketika banyak negara imperialis pemenang Perang Dunia II yang mensponsori berdirinya PBB masih bermimpi tentang kesepakatan Perjanjian Postdam, yaitu memperoleh kembali haknya atas tanah jajahannya, dengan lantang Soekarno berkata: ”Kami yang tidak bersuara pada masa yang lampau tidaklah tanpa suara sekarang.”

”Kami yang berdiam diri pada masa imperialisme, tidaklah berdiam diri sekarang. Kami yang berdiam diri akibat kesengsaraan karena imperialisme, tidaklah berdiam diri lagi. Perjuangan kami untuk hidup yang ditutupi jubah kolonialisme, sekarang tidak bersembunyi lagi.” Soekarno mengingatkan bahwa dunia sudah berubah sejak 1945 dan dunia berubah menuju arah perbaikan. (Pidato Soekarno di PBB itu pada 30 September 1960: To Build the World Anew).

Tetapi, di negeri sendiri sosok Soekarno ibarat asing dan terlupakan. Di bawah rezim Orde Baru yang cenderung dekat dengan negara-negara kapitalis, jati diri Soekarno dan Hatta nyaris tergerus. Nama mereka seakan hanya mendapat pengakuan saat membaca teks proklamasi. Selain itu, mereka bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa.

Generasi sekarang lebih tahu di mana kali pertama Presiden AS Barack Hussein Obama bersekolah, tetapi tidak tahu di mana sebenarnya Bung Karno dilahirkan. Sebagian besar mengatakan, Bung Karno dilahirkan di Blitar. Konyolnya, jawaban seperti itu pun diucapkan anak-anak Surabaya.

Dalam semua penulisan biografi Soekarno sebelum 1970, semua menulis Soekarno lahir di Surabaya. Akhir 1900, R Soekeni Sosrodihardjo (ayahanda Soekarno) dipindahtugaskan dari Singaraja, Bali, sebagai guru di Sekolah Rakyat Sulung, Surabaya. Istrinya, Nyoman Rai Srimben, dalam keadaan hamil muda. Di Surabaya itulah Nyoman Rai Srimben melahirkan seorang putra yang diberi nama Kusno pada 6 Juni 1901.

Buku-buku biografi itu, antara lain, Soekarno sebagi Manoesia (Im Yang Tjoe, penerbit Ravena, Solo 1933), dan Kamus Politik (AM Adinda/Usman Burhan, penerbit Ksatrya, Surabaya, 1950. Tiga terbitan ensiklopedi, yaitu Ensiklopedia Indonesia 1955, NV penerbit W. Van Hoeve, Bandung. ‘S – Gravenhage: (djilid III N-Z) halaman 1.265; Ensiklopedi Indonesia (edisi khusus, jilid 6 SHI – VAJ) terbitan PT Ichtiar Baru, Van Hoeve, Jakarta 1986; dan Ensiklopedi Nasional Indonesia (jilid 15 SF-SY) penerbit Delta Pamungkas, Jakarta, 1997, halaman 311. Tiga ensiklopedi itu menulis Soekarno kelahiran Surabaya, 1 Juni 1901.

Buku-buku Soebagijo I.N. (Pengukir Jiwa Soekarno), Solichin Salam (Bung Karno Putra sang Fajar), Nurinwa Ki S. Hendrowinoto Dkk (Ayah Bunda Bung Karno, penerbit Republika 2002), dan Nasution M.Y. (Riwayat Ringkas, Penghidupan dan Perjuangan Ir Soekarno) bahkan mencantumkan alamat tempat Bung Karno dilahirkan, yaitu di Kampung Pandean IV/40, Surabaya.

***

Media massa sekarang lebih sering menulis Soekarno kelahiran Blitar. Sayangnya, media dan TV terbesar di ibu kota berkali-kali merilis Blitar sebagai kota kelahiran Bung Karno. Itulah yang mungkin menjadi rujukan bagi generasi kini. Sebaliknya, para penulis asing masih tetap konsekuen dan cermat menulis Surabaya sebagai kota kelahiran Bung Karno. Lambert Giebels untuk menulis bukunya, Soekarno, Biografi 1901-1950 melacak sampai ke lokasi Bung Karno dilahirkan.

Penulis asing umumnya yang mengutip sumber arsip di Leiden (Belanda) otentik sebagaimana tertulis dalam ijazah dan berkas perkara Bung Karno ketika diadili. Sebagian merujuk kepada Cindy Adams (Soekarno, an Autobiografi as told to Cindy Adams, edisi bahasa Inggris 1966). Bob Hering (Soekarno, Mitos dan Realitas – 1986), penulis Belanda yang dekat dengan Bung Karno, juga menulis Soekarno lahir di Surabaya.

Biografi Soekarno terbaru yang di-launching tahun lalu adalah Soe­karno Politicheswkaya Biografiya (SOEKARNO, Biografi Politik), Moskwa Mysl, 1980. Prof Kapitsa M.S. & Dr Maletin N.P. , (1980), terjemahan dari bahasa Rusia, B. Soegiharto PhD penerbit Ultimus, 2009. Di halaman 9 jelas tertulis: Soekarno dilahirkan di Jawa, Surabaya, pada 6 Juni 1901.

Sedangkan Blitar adalah tempat penugasan terakhir Soekeni Sosrodihardjo ketika dipindahkan dari Mojokerto dan dipromosikan sebagai penilik sekolah pada 1917. Ketika itu, Bung Karno kos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto.

Pada 1920, dibelilah rumah yang sekarang dikenal sebagai rumah orang tua Bung Karno di Blitar. Pada tahun itu, Bung Karno sudah masuk THS (Sekolah Tinggi Teknik, sekarang ITB) di Bandung dan membawa serta istrinya, Siti Oetari. Jadi, praktis Bung Karno tidak pernah tinggal di Blitar selain beberapa kali berkunjung dan sungkem kepada kedua orang tuanya di sana.

***

Yang perlu disinggung dalam proses kreativitas Soekarno bahwa pada masa kecil Bung Karno beberapa tahun mengikuti kakeknya, Hardjodikromo, di Desa Kepatihan, Tulungagung. Di sana dia berkenalan dengan dunia pewayangan. Di situ pula Bung Karno kali pertama masuk sekolah, belajar mengenal angka dan huruf, serta mengidentikkan dirinya dengan tokoh Bima, yang kemudian nama itu dipakai sebagai nama samaran dalam tulisannya.

Selain Tulungagung, Bung Karno kecil lama tinggal di Mojokerto. Di sana dia akrab dengan Wagiman dan sering tiduran di rumahnya yang lebih mirip gubuk. Wagiman pandai bercerita tentang tokoh-tokoh pewayangan. Tak bosan-bosan Soekarno mandatangi rumah Wagiman itu. Sejujurnya, dalam pergaulannya dengan Wagiman, Soekarno mulai tersentuh dengan persoalan penderitaan bangsa. Mojokerto adalah tempat awal bertumbuhnya kepedulian dan kecintaan Bung Karno kepada rakyat jelata.

Ironisnya, sebagian besar generasi muda bangsa kita hanya mengenal Blitar sebagai kota yang identik dengan Bung Karno. Bahkan, banyak generasi muda Surabaya yang tidak menyangka bahwa Soekarno adalah arek Suroboyo asli yang dengan semangat bonek-nya pantang menyerah. Dia menantang penjajah, berkali-kali ditangkap, dipenjara, dan dibuang. Tetapi, dia tetap nekat.

”Ini dadaku, mana dadamu,” kata Soekarno. Dia mengusir Amerika dengan kata-kata: Go to hell with your aid. (Kini sebaliknya kita mengemis-ngemis bantuan Amerika). Bahkan, dunia pun ditantangnya, dunia yang tidak adil kepada bangsa-bangsa tertindas.

Dengan gaya arek Suroboyo pulalah, Bung Karno membandingkan kemerdekaan dengan keberanian kawin sang Marhaen: ”Kalau dia sudah mempunyai gubuk saja, dengan satu tikar, dengan satu periuk: kawin”. Serupa itu pula keberanian untuk merdeka, merdeka dengan sema­ngat bonek, tentu saja! (*)
www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=138134

Minggu, 30 Mei 2010

Dalil Tentang Taqiyah

Shahih bukhari kitab al ikrah bab qoulihita'ala ila man akraha wa qalbahu muthmain bil iiman

Usama bin Laden bikinan CIA

http://www.conspiracyarchive.com/NWO/CIA_Created_Osama.htm