Kamis, 14 April 2016

Mobil Listrik Karya Anak Indonesia


Dalam pameran yang digelar bersamaan dengan hari Teknologi Nasional pada Rabu (10/8) di Puspitek Serpong, Banten,anak bangsa menunjukkan hasil karyanya dengan menampilkan mobil sport listrik SKEV-1 (Signal Kustom Electric Vehicle 1). Kendaraan sport listrik ini dibuat atas kerja sama antara coachbuilder Signal Kustom, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),dan didukung oleh Auto Vision serta Alpine yang masingmasing memasok lampu dan perangkat audio multimedia.

Kehadiran SKEV-1 merupakan perwakilan salah satu karya teknologi bangsa Indonesia, di mana karya ini bisa disejajarkan dengan teknologi buatan bangsa lain.SKEV-1 diharapkan bisa memacu inovasi dan kreativitas anak bangsa lainnya untuk menjadi pionir teknologi. Meski baru konsep,mobil ini terbilang hebat untuk urusan in car entertainment.

Banyaknya perangkat audio berdaya besar diusung SKEV- 1.Selidik punya selidik,menurut Andre Mulyadi dari Signal Kustom Bandung,SKEV-1 awalnya diciptakan untuk ikut ajang kontes modifikasi Autoblackthrough 2010.

Oleh karena itu,kendaraan tersebut dibuat seatraktif mungkin lewat kehadiran 4 buah subwoofer10 inci,4 speaker 6 inci berikut tweeter nya, dan 3 unit powerplus 7 layar LCD touchscreen yang seluruhnya dipasok oleh PT Multi Mayaka dengan produk Alpine.

Sementara untuk sistem pencahayaan,Andre menyerahkan kepada produk Auto- Vision. “Cuma AutoVision yang memiliki LED dengan formasi berderet.Dan kami memerlukannya untuk mendukung kesan high-tech yang menjadi tema desain SKEV-1,” ujar Andre.

“Kami juga memanfaatkan produk AutoVision pada headlamp model HID projector dan lampu rem LED.Selain tiga kali lebih terang dan berkesan hightech, penggunaan lampu LED juga bertujuan mengurangi beban baterai,”ujar Andre.

Menurut Andre,SKEV-1 dirancang dan dibangun oleh tim desainer Signal Kustom, mulai dari sasis sistem suspensi hingga bagian bodinya yang terbuat dari perpaduan logam, serat kaca,dan serat karbon. “Bisa dibilang,95% kita membuatnya sendiri,”ujar dia.

Andre mengadakan kerja sama dengan LIPI karena menginginkan mobil ini tidak menggunakan mesin konvensional. Andre pun pergi ke LIPI untuk mengutarakan maksudnya. Awalnya,Kepala Bidang Peralatan Transportasi di Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Ir Abdul Hapid yang ditemuinya ketika itu menolak.

Namun setelah Andre menjelaskan dan menyodorkan rancangan SKEV-1, Hapid pun bersedia membantu. Maka,jadilah mobil sport yang terinspirasi dari bentuk mobil Formula 1 dan mobil balap ketahanan 24 Jam LeMans ini memiliki sistem penggerak listrik yang pembuatannya digarap oleh tim dari LIPI.

Abdul Hapid mengatakan bahwa SKEV-1 dibekali dengan baterai lithium-ion generasi terbaru dengan kepadatan energi (energy density) yang tinggi.Baterai bertegangan 96 volt berkapasitas 200 Ah ini hanya butuh 4 jam pengisian agar kembali penuh dari kondisi 30%.

Bahkan jika menggunakan sistem pengisian cepat (rapid charger), kendaraan berbobot sekitar 700–800 kg ini hanya butuh 15 sampai 20 menit hingga baterainya penuh terisi. “Masalahnya,untuk membuat perangkat itu membutuhkan biaya dan daya listrik yang besar,yaitu sekitar 100 amper.Jadi,saat ini menggunakan sumber kelistrikan rumah 220 volt dengan daya 42 amper untuk mengisinya,”tutur Hapid.

Dengan motor listrik AC berkekuatan 60 hp,SKEV-1 diperkirakan mampu menempuh jarak 140–150 km sekali isi,namun belum pernah dicoba berapa kecepatan puncaknya.Menurut perkiraan Hapid,SKEV-1 bisa dipacu lebih dari 140 km/jam.

Tampilan kendaraan yang berkesan streamlinedan futuristik ini kian sempurna berkat penggunaan ban-ban high performancelansiran Pirelli.

Kehidupan Angkat Besi Indonesia

livter-kurang-pencahayaan                                                                          sumber gambar: Kompas
Indonesia Bisa --Kawah candradimuka para lifter belia itu berada di Pringsewu, Lampung. Di sebuah padepokan angkat besi bernama Gajah Lampung, anak-anak berusia 10-12 tahun digodok untuk menjadi lifter profesional kelas dunia.
Inilah jalan panjang seleksi alam untuk mencari bibit atlet angkat besi.

Sore itu, awal Desember 2015 lalu, matahari memancarkan semburat keemasan menyepuh langit Pringsewu, Lampung. Hari yang cerah selaras dengan keceriaan anak-anak berusia 10-12 tahun yang tengah berlatih di padepokan angkat besi Gajah Lampung.


Padepokan itu telah berusia 48 tahun. Siapa pun boleh datang karena padepokan sangat terbuka  bagi siapa saja yang ingin berlatih angkat besi. Mereka yang datang selalu diterima dengan tangan terbuka.

Inilah yang membuat anak-anak itu nyaman bermain barbel bersama atlet-atlet profesional. Keriuhan anak-anak itu menghidupkan padepokan.

Tawa, canda, dan obrolan khas anak-anak berbaur dengan denting barbel yang beradu dan suara barbel yang mendarat di atas papan kayu. Siapa pun yang mencoba untuk beristirahat siang itu pasti gagal total. Suara brak dan bruk hingga lengkingan Kebisingan itu menjadi warna tempat lifter Indonesia menempa kemampuan untuk tampil di pentas angkat besi dunia. Padepokan ini telah mempersembahkan berbagai medali, termasuk perunggu Olimpiade Sydney 2000 yang diraih oleh lifter putri Sri Indriyani dan Winarni.

Prestasi itu diraih melalui proses panjang seperti yang sedang dirintis oleh sekitar 20-an anak usia sekolah dasar kelas 4, 5, 6 yang sering datang ke padepokan. Mereka disambut oleh asisten pelatih Misdan Yunip yang dengan sabar memperagakan gerakan snatch dan clean and jerk. Dua gerakan itu wajib dikuasai untuk menjadi lifter profesional. Anak-anak itu bergiliran mencoba gerakan yang dicontohkan oleh Misdan, mantan lifter. Mereka hanya mengangkat tongkat tanpa beban barbel. Ucok, panggilan akrab Misdan, membimbing anak-anak itu. Dia telaten memperbaiki posisi kaki, tangan, dan lekuk pinggang yang masih berantakan. Begitu berulang-ulang.

“Anak-anak SD ini datang ke padepokan ini setelah kejuaraan nasional PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan pelakar) akhir November 2015 lalu. Mereka rata-rata menyatakan tertarik dengan angkat besi. Tertarik untuk bisa dikenal dan bisa jalan-jalan,” ujar Ucok. Namun, jalan menjadi lifter tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Usia SD kelas 4, 5, 6 memang menjadi awal yang bagus untuk membentuk seseorang menjadi lifter. “Saat mencoba mendapatkan materi baru, kami akan memperagakan gerakan-gerakan angkat besi supaya anak-anak itu juga mau mencoba,” ujar Ucok.

Saat para siswa SD bergantian belajar membuat gerakan dan mengangkat beban, tim pencari bakat dari Padepokan Gajah Lampung akan memperhatikan tungkai dan kestabilan gerakan. Begitu juga saat mereka mulai mengangkat beban, tim pemantau mencermati tenaga alam anak-anak itu.
“Begitu seorang anak memenuhi syarat-syarat itu, harus segera diambil dan ditawari berlatih dan tinggal di padepokan,” ujar pelatih angkat besi sekaligus mantan lifter, Eddy Santoso.
Namun, Eddy juga tidak mau terburu-buru. Jika ada anak yang potensial, Eddy akan menyelami motivasi anak itu melalui obrolan ringan.

Dia ingin memastikan anak itu tidak patah di tengah jalan karena proses panjang ini membutuhkan niat besar dari si anak, termasuk dorongan orangtua.
Eddy pernah memiliki atlet muda berbakat yang cepat menguasai teknik dan memiliki tenaga besar. Namun, anak itu sebenarnya tidak suka angkat besi dan hanya mengikuti perintah orangtuanya. Dia kini tidak pernah lagi berlatih, padahal Eddy melihat masa depan cerah menanti anak itu.
Faktor terbesar ada pada niat anak itu sendiri. Karena itulah, di awal saya biarkan saja mereka berlatih. Nanti akan ada seleksi alam, biasanya sepekan sudah mrotholi (berguguran), tidak datang latihan.

Mereka yang bertahan 2-3 bulan latihan angkat besi, diarahkan oleh Eddy ke angkat berat. Ini untuk mengetahui ketekunan mereka. Angkat berat memiliki pamor sedikit di bawah angkat besi. Jika mereka melewati ujian ketekunan itu, Eddy akan langsung menangani anak-anak itu dengan program yang terukur. Ini dia lakukan pada Fina, lifter putri yang awalnya datang sendiri ke padepokan. Dia rajin berlaih selama tiga bulan. Fina cepat menguasai treknik angkatan dan memiliki tenaga besar.
Mencari bibit angkat besi bukan pekerjaan mudah.

Empat tahun lalu, Eddy memimpin tim padepokan bergerilya di sekitar Lampung. Upaya selama tiga hari dengan menyeleksi hampir 1.500-an anak di Kalianda, Lampung Selatan, itu hanya membuahkan hasil lima potensi baru.

Mereka dibina di Padepokan Gajah Lampung. Namun, jarak sejauh 150-an km yang membentang antara Kalianda dan Pringsewu menjadi halangan serius.
“Saat anak-anak itu pamit untuk liburan, kami mengizinkan. Ternyata mereka tidak kembali lagi ke Pringsewu,” ujar Eddy.

Akhirnya, Eddy menyadari bahwa sejauh atau sekeras apapun untuk mendapatkan materi, jika itu tidak berasal dari niat si anak, tidak akan berhasil. Ini seleksi alam. Lifter Okta Dwi Pramita, misalnya, menjadi salah satu atlet hasil dari seleksi alam itu. Pada tahun 2000, lifter putri asal Wonosobo, Lampung, yang saat itu masih duduk di bangku SMP hanya ikut-ikut temannya berlatih di Pringsewu.

Lambat laun, ia jatuh cinta pada cabang yang sangat menuntut tenaga, kekuatan, dan kecepatan itu.
Semula ikut-ikutan teman, kemudian saya suka. Jadilah saya menekuni olahraga ini.
Cinta Okta pada angkat besi bisa menginspirasi puluhan anak SD yang mulai berlatih di padepokan Gajah Lampung.

Ketekunan dan perjuangan para atlet senior untuk meraih prestasi bisa menumbuhkan motivasi menjadi Herkules bagi mereka yang awalnya ikut-ikutan teman atau disuruh orangtua.
“Sekali lagi, tidak mudah mendapatkan lifter. Kita lihat saja perkembangan anak-anak ini dalam beberapa waktu ke depan,” ujar Eddy.

Adelia Prasasti (12) menatap barbel berbobot 45 kg yang ada di hadapannya. Sejenak ia bersiap melakukan angkatan ketiga clean and jerk.
Tangannya mencengkram batang barbel dan dalam satu tarikan napas, lifter putri termungil di kelas 36 kg itu mengangkat barbel dan menahannya di dada.

Sedetik kemudian, dengan satu entakan, barbel itu ia angkat tinggi-tinggi di atas kepala dan ia tahan selama 10 detik. Keringat mengalir di tubuhnya yang susah payang menopang berat barbel.
Wasit menyatakan, angkatan clean and jerk Adelia sah. Gemuruh tepuk tangan dari pelatih, teman, dan penonton pertandingan pun pecah.

Angkatannya itu membawa Adelia menjadi juara pertama Kejuaraan Angkat Besi Antar-pelajar yang digelar di Padepokan Gajah Lampung, Pringsewu, Provinsi Lampung, akhir 2015 lalu.
Ia total mengangkat 76 kg, 31 kg dari snacth dan 45 clean and jerk. Tiga medali emas dan gelar sebagai lifter terbaik kejuaraan ia rebut sekaligus. Keberhasilan Adelia mengangkat barbel 45 kg tampak muskil buat orang awam. Bayangkan, dengan berat badan hanya 24 kg, ia bisa mengangkat beban 45 kg atau nyaris dua kali lipat dari berat tubuhnya.

Tapi begitulah hasil dari ketekunannya berlatih angkat besi sejak ia duduk di kelas III SD di Padepokan Gajah Lampung yang telah melahirkan puluhan lifter hebat, seperti Sri Indriyani dan Winarni (peraih perunggu Olimpiade Sydney tahun 2000), Supeni (peraih perak Asian Games), Ponco Ambarwati, dan Jadi Setiadi (peraih perunggu Asian Games). Beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin Adelia mengikuti jejak para lifter Gajah Lampung menjadi juara di mana-mana. Apalagi, ia memiliki motivasi besar, yakni mengangkat martabat keluarga lewat angkat besi.

Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan selalu berpesan agar Adelia bisa menjadi orang sukses. Ibunya yang hanya lulusan sekolah menengah atas pun ingin Adelia punya gelar sarjana. Adelia yang masih belia tahu bahwa pesan orangtuanya itu bisa ia wujudkan lewat angkat besi.
Saat ini, setidaknya ia sudah bisa membiayai sendiri sekolahnya. Ia membeli peralatan sekolah, seperti buku, dari uang pembinaan Padepokan Gajah Lampung.

Saya ingin sukses seperti atlet senior di sini. Mereka bisa membantu keluarga dan keliling dunia.
Nasib yang berbeda dialami Joneri Pandia (11). Jon, sapaan Joneri, kehilangan kepercayaan diri begitu kakinya melangkah ke panggung. Penonton yang membeludak meruntuhkan mental siswa kelas V SD 3 Podomoro, Pringsewu, Lampung itu. Barbel 37 kg, yang biasa dia angkat saat latihan, terasa jauh lebih berat. Dia hanya bisa mengangkat barbel 32 kg untuk angkatan snatch.
Jika Jon bisa mengalahkan rasa takut di atas panggung, lifter cilik ini bisa meraih emas dengan angkatan 37 kg.

Jon akhirnya meraih perunggu di kelas ekshibisi 38 kg dalam kejuaraan nasional angkat besi antar-Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) pada akhir 2015 lalu.
Jon merasakan ujian terberat untuk menjadi atlet angkat besi profesional, yaitu harus mengalahkan diri sendiri.

Mental harus kuat karena kekuatan fisik dan teknik matang tidak cukup untuk membawa pulang medali emas. Dia memetik pelajaran berharga.
Dia belum memiliki mental juara, padahal lomba itu digelar di rumahnya sendiri, Padepokan Gajah Lampung, Pringsewu.

Ini lomba pertama saya, rasanya grogi karena dilihat banyak orang.
Jon mulai menekuni angkat besi saat bulan puasa, Juni 2015. Dia berkembang pesat bersama teman seumurannya, Dedi Kurniawan. Dua atlet cilik itu menjadi pasangan saat latihan. Mereka berlatih mengejar angkatan 60 kg untuk clean and jerk dan 45 kg untuk snatch.
Itu target panjang karena Jon dan Dedi kini baru di level 40 kg. Mereka sebenarnya sudah bernafsu ingin naik ke 42 kg.

Namun, pelatih Eddy Santoso tidak mau terburu-buru. Eddy, mantan lifter, ingin fisik dan mental dua jagoan ciliknya lebih matang. Eddy ingin melihat seberapa besar keinginan mereka untuk menggapai mimpi menjadi olimpian. Jon mengidolakan lifter senior, Jadi Setiadi, yang meraih peringkat kelima di kelas 56 kg Olimpiade London 2012. Itu mimpi besar yang dia pupuk di Padepokan Gajah Lampung.

Jon dan atlet-atlet cilik lain harus melalui ujian panjang ketekunan dan disiplin. Pelajaran mental itu dijalani setiap hari sebelum matahari terbit hingga menjelang tidur di padepokan milik mantan lifter dunia, Imron Rosadi.

Padepokan angkat besi yang telah berusia 48 tahun itu sudah menggeliat sebelum azan subuh.
Denting logam dari barbel yang beradu dan gedebuk barbel yang dijatuhkan di atas papan kayu memecah keheningan di pagi hari. Sekitar 20 lifter yang tinggal di padepokan sibuk menyiapkan alat untuk latihan pagi. Ritual yang sama dilakukan menjelang sore hari. ”Ya, memang begini yang diajarkan Pak Imron kepada kami saat awal-awal kami masuk padepokan,” ujar Doni (25), salah satu lifter angkat berat. Masuk dan bergabung di Padepokan Gajah Lampung yang didirikan dan dikelola Imron bersama keluarganya bukan hal mudah. Ada syarat penting yang mesti dipenuhi.
Para lifter dan calon lifter harus menunjukkan kemampuan dan potensi di cabang angkat besi, serta tekad untuk berlatih dan disiplin.

Lifter peraih emas SEA Games Okta Dwi Pramita mengatakan, kegiatan beres-beres di pagi, siang, atau petang seusai dengan latihan, serta dua kali dalam seminggu beres-beres besar, menjadi cara Imron mengajarkan tanggung jawab, disiplin, kebersihan, kerapian, serta rasa memiliki terhadap padepokan. Apalagi padepokan ini juga menjadi rumah bagi para lifter.
Pak Imron juga terus menanamkan sikap rendah hati. Kalau dapat medali, memenangi satu kejuaraan tidak boleh jumawa, harus tetap bersyukur. Terus, tidak boleh boros, harus menabung dan hemat. Persis seperti Dasa Dharma Pramuka itu, Mbak.

Ada alasan kuat mengapa Imron menanamkan semua nilai itu kepada lifter dan calon lifter.
Itu semua demi masa depan mereka. Padepokan ini adalah rumah dan tempat mereka meraih mimpi.
Di padepokan yang saat ini menempati area seluas 2.600 meter persegi itu, lifter-lifter usia pemula, remaja, yunior, dan senior potensial dari keluarga kurang mampu tinggal dan berlatih. Mereka ditemukan sejak usia remaja oleh tim pemantau bakat dari padepokan.
”Ya, memang jauh dari rumah, tetapi ibuku sudah meninggalkanku. Aku tinggal bersama simbah (nenek), bapak, juga mbak,” ujar Dedi Kurniawan, salah satu lifter remaja yang bergabung di padepokan dalam dua tahun terakhir.

Si mungil Dedi, dalam dua tahun terakhir, menunjukkan kemajuan, khususnya dalam teknik. Lifter kelas V SD Fajar Esuk, Pringsewu, yang berbobot 25 kg ini mampu mengangkat beban 40-an kg. Cara dia mengangkat beban pun terlihat luwes. ”Kalau aku, mauku berlatih terus sampai berhasil,” ujarnya. Tidak hanya Dedi, lifter remaja putri Purwanti juga bertekad sama. Kakak kandung Dedi ini menuturkan, ia seperti mendapat jalan keluar untuk meraih masa depannya. ”Kalau di rumah, paling ngapain. Ya, di rumah saja sama simbah. Tidak bisa jalan-jalan dan melihat kota lain,” ujar Purwanti.

Karena mengikuti ajakan teman untuk latihan angkat besi, Purwanti pun menjadi lifter remaja berprestasi. Tempaan pelatih Eddy dan asisten pelatih Misdan ”Ucok” Yanip membuat Purwanti merebut emas kelas 44 kg di beberapa kejuaraan nasional dan internasional.
Saya sekarang punya pengalaman jalan-jalan ke daerah atau negara lain. Saya juga punya prestasi. Kalau saya cuma di rumah, saya tidak ke mana-mana, juga tidak punya prestasi.
Lifter muda Puryadi, yang biasa dipanggil Adi, tertarik dengan angkat besi karena cerita-cerita sukses dari para lifter senior.

Mulai berlatih sejak dua tahun lalu, Adi, siswa kelas VI SD Podomoro, Pringsewu, menuturkan, menjadi lifter itu asyik. ”Bisa pergi ke kota lain untuk ikut kejuaraan. Terus bisa punya uang saku,” tutur Adi, yang di kejuaraan PPLP November 2015 merebut emas kelas 42 kg.
Adi mendapat dukungan penuh dari ayahnya yang seorang satpam dan ibunya yang pedagang sayuran. Bahkan, dari uang saku bulanan sebagai lifter remaja PPLP, Adi bisa membantu orangtuanya.

Bagi Imron, padepokan yang ia dirikan bukan sekadar padepokan untuk berlatih angkat besi, melainkan juga untuk melatih hidup. Lifter dari usia sekolah dasar sudah diajari bertanggung jawab akan hidup dan menegakkan jalan masa depan. Sebagai pengelola, bapak, juga pelatih bagi para lifter, Imron tidak hanya melatih. Tiap lifter potensial diberi uang saku bulanan.

Jika mereka berprestasi di kejuaraan, bonus yang didapat akan disimpan Imron. Bonus itu diubah menjadi tabungan atas nama lifter bersangkutan. Dari deposito itulah, para lifter bisa membeli tanah atau sawah.”Kalau tidak begitu caranya, walah, bisa habis itu bonus-bonus,” ujar Imron.
Dengan pengelolaan itu, Imron bertekad membantu sesama, mengangkat harkat sesama yang kurang beruntung, sekaligus bisa mengangkat harkat bangsa jika sang lifter berhasil memenangkan berbagai kompetisi. Banyak anak dari keluarga berbagai kalangan datang ke padepokan itu.




Sumber : Kompas

Sabtu, 17 Januari 2015

Delapan Game Online Yang Merusak Kepribadian Anak




Banda Aceh, LiputanIslam.com – Sudah sejak lama game online menuai korban. Bahkan beberapa diantaranya harus meregang nyawa lantaran kelelahan bermain game online tanpa henti selama lebih dari 24 jam. Korban pun berjatuhan bukan hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Namun demikian, mudahnya memasang internet di rumah bahkan populasi warnet game online kian hari kian tambah subur hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Lalu bagaimana dampaknya?

Baru-baru ini Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak Aceh, mengingatkan kepada setiap orang tua, supaya berhati-hati dan selalu mewaspadai terhadap anaknya dalam memilih permainan (game online), karena bisa mempengaruhi karakter maupun psikologis anak, seperti dilansir dari acehnews.net.

“Ibarat candu, perlahan-lahan efek permainan tersebut merusak sisi psikis dan kepribadian anak. Kita selaku orangtua cenderung abai menyangkut upaya preventif terhadap gejala ini,” kata Manager Program LBH Anak Aceh, Rudy Bastian, kepada wartawan, di Banda Aceh, Minggu (11/1).

Menurutnya pola asuh orang tua kurang tepat dalam memilih selingan bagi anak-anak yang mengalami kejenuhan dalam belajar. Orang tua abai dalam memilih permainan yang tepat dengan manfaat yang lebih mengedukasi bagi anak-anaknya.

“Harapan kami kepada orang tua anak, agar lebih tegas dan waspada lagi dalam merawat anak-anaknya supaya perkembangan psikologinya tidak terganggu gara-gara game online. Kita selaku orang tua harus selektif dalam mengingatkan dan memilih game online yang tepat untuk dimainkan si anak,” ulasnya.

Rudy merincikan, kedelapan game berbahaya bagi anak, diantaranya Point Blank (PB), Counter Strike, World of Warcraft, Call of Duty, RF Online, AION, Gunbound, dan Lost Saga.

Alasan mengapa game online tersebut berbahaya adalah karena didalam permainannya menawarkan sensasi kekerasan seperti perang-perangan, perkelahian, pembantaian etnis, perang antar suku dan bahkan pembunuhan sadis terhadap siapapun yang dianggap lawan di dalam game.

Celakanya jika kondisi (membiarkan anak bermain game online bernuansa kekerasan) pembiaran itu terus berlangsung, anak-anak yang dalam rentang usia tertentu akan menyerap segala tingkah laku orang dewasa dan dengan mudah pula meniru apa yang dilihatnya terutama yang masih di usia antara delapan hingga 14 tahun.

Hal tersebut akan menunjukkan dampak yang tidak baik terutama jika si anak sudah kecanduan bermain game online. Dengan demikian, orang tua harus bijak dalam mendidik anaknya dan melakukan pengawasan dan bimbingan agar anak-anak menjadi insan yang berakhlak mulia.[Noe/LiputanIslam]

Sabtu, 20 Desember 2014

IPB Siapkan Mahasiswa Go Internasional



BOGOR -- Institut Pertanian Bogor (IPB) berlakukan peraturan khusus untuk mengikut sertakan mahasiswanya mengikuti kegiatan seminar riset Internasional. Peraturan khusus itu adalah ide juga kegiatan riset harus berasal dari dan dilakukan sendiri oleh mahasiswa.

"Mahasiswa yang mengikuti seminar-seminar Internasional seperti TRI-U 2012 ini mesti menyampaikan hasil riset yang mereka lakukan sendiri, tidak boleh hanya sekadar study pustaka saja," kata Yonny Koesmaryono, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB dalam konferensi pers TRI-U 2012 di Ruang Sidang Rektor 2, Dramaga, Bogor. 

Ia menambahkan, hasil riset itu harus betul-betul hasil karya mereka. Hal ini diberlakukan agar mahasiswa percaya diri menyampaikan hasil risetnya karena mereka mengerti dengan melakukannya langsung. "Dalam tanya jawab, mereka akan lebih siap dan bisa menjelaskan dengan detail," ungkap Yonny.

Selain itu, tambahnya, mereka akan sanggup berdiskusi langsung dengan tingkatan akademik yang lebih tinggi, sampai membahas pengetahuan dasarnya. Menurutnya, peraturan ini diberlakukan agar mahasiswa yang presentasi dihadapan khalayak Internasional menguasai riset mereka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan.
  
"Tentu selain itu pun akan dipilih berdasarkan kemampuan berbahasa Inggris dan perilakunya yang tidak rendah diri tapi juga tidak sombong," ujarnya.  

Kepala Sub Direktoral Program Internasional IPB, Muhammad Agil, mengatakan dengan peraturan ini akan meningkatkan kemampuan mahasiswa hingga akhirnya meningkatkan level pendidikan Indonesia juga. "Masyarakat yang menyangsikan pendidikan di Indonesia dapat sejajar dengan luar negeri akan berubah pikiran," kata dia. Namun, tambahnya selama masih setingkat Asia, mahasiswa Indonesia tentu dapat bersaing.[Noe/Republika.com]

Pendidikan Harus Jadi Sesuatu yang Membahagiakan




Anies Baswedan memilih mendengarkan langsung laporan dari siswa yang mengalami kendala dalam pengajaran kurikulum 2013.
Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar-Menengah Anies Baswedan berniat mengubah pola pikir para peserta didik dan orangtua murid yang menganggap pendidikan adalah penderitaan. Sebab saat ini, masih banyak anak-anak putus sekolah akibat biaya pendidikan yang cukup tinggi dan intensitas belajar di sekolah yang kian membenani.

"Pendidikan harus jadi sesuatu yang membahagiakan. Kalau pendidikan jadi penderitaan, itu mengerikan sekali," kata Anies di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Rektor Universitas Paramadina ini menjelaskan, jika pendidikan masih dianggap sebagai sesuatu hal yang menyulitkan, maka negara tidak dapat melahirkan generasi penerus yang andal.

"Kapan kita bisa menghasilkan anak-anak pembelajar kalau belajarnya adalah penderitaan? Itu nggak boleh," ucap dia.

Untuk itu, ia berencana mengubah konsep metode pembelajaran dan pengajaran di sekolah, sehingga para peserta didik dan orangtua tidak lagi menganggap bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang membebani.

"Kementerian ini harus memunculkan konsep dan metode bahwa pendidikan itu menyenangkan, mencerahkan. Pendidikan bukan sesuatu yang membebani," tandas Anies. [noe/liputan6]

Bahan Sampah Disulap Arif Menjadi BBM Setara Pertamax

sampah jadi pertamax




Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat disikapi dengan respon positif. Berbagai cara dilakukan untuk menekan biaya transportasi. Salah satu kreatifitas yang dilakukan antara lain menggunakan gas LPG sebagai alternatif pengganti. Yang lebih hebat lagi seorang mantan guru SMA di kabupaten Jombang, Jawa Timur yang bisa mengubah sampah organik menjadi BBM beroktan 93 atau setara dengan Pertamax.

Arif Wibowo saat ditemu wartawan di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kota Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa membuat BBM dari sampah organik ternyata cukup sederhana. Prosesnya ia mengumpulkan dedaunan kering atau jerami kemudian ditumbuk hingga menjadi serbuk seperti dilansir dari okezone.com.

Setelah mendapatkan serbuk jerami atau dedaunan kering, kemudian Arif mencampurnya dengan cairan limbah tetes tebu kemudian diaduk rata. Pada campuran tersebut juga dimasukkan ragi. Jika proses pencampuran selesai, hasilnya kemudian difermentasi dengan cara ditutup rapat dan disimpan selama 14 hari.

Belum selesai sampai disitu. Setelah menunggu setelah 14 hari kemudian cairan tersebut disuling dengan merebusnya menggunakan alat yang didesain secara khusus olehnya hingga mengeluarkan minyak.

Minyak tersebut kemudian ia taburi dengan kapur barus. Tujuannya agar kadar oktannya meningkat dengan menggunakan kapur barus.

Hasilnya, Arif mampu memproduksi sendiri bahan bakar minyak dengan kadar oktan 93 dari sampah organik. Mantan guru yang menyandang predikat guru teladan dari LIPI pada tahun 2008 ini masih terus mengembangkan penelitiannya tersebut.

Dari hasil penelitiannya tersebut ternyata membuat beberapa peneliti dari Australia tertarik untuk memberdayakan Arif. Pasalnya harga BBM di Australia sangat mahal namun disisi lain sampah organik melimpah di negeri Kangguru tersebut.

Arif menolak tawaran tersebut meskipun diembel-embeli dengan imbalan yang sangat besar. Arif khawatir dirinya tidak bisa mengembangkan penelitiannya di Indonesia. Hebatnya lagi, berdasarkan perhitungan Arif, ongkos produksi Pertamax organik miliknya hanya birkisar antara Rp 5.800 perliter. Lebih murah dibandingkan dengan BBM bersubsidi sekalipun.

Arif berharap agar pemerintah bisa merespon hasil karyanya. Sampai saat ini hasil karyanya sudah digunakan oleh beberapa perusahaan swasta dan dipastikan aman untuk kendaraan bermotor. Dengan menolak tawaran dari Australia, Arif berhadap penemuannya bisa dimanfaatkan untuk membantu masyarakat. [noe/Liputanislam.com]

Popularitas Gamelan di Amerika Meningkat



Fransiska, salah satu penonton asal Jerman di acara festival musik “Performing Indonesia” yang pernah diadakan di Smithsonian, Washington, DC mengatakan “Suara gamelan sangat menarik.”

Selain Fransiska ternyata banyak penonton lain yang terpesona ketika melihat banyak warga Amerika dengan bangganya ikut tampil dan memainkan kgamelan sambil mengenakan pakaian tradisional Indonesia seperti dilansir dari pikiranrakyat.com.

Gamelan Jawa sudah diperkenalkan oleh mendiang Mantle Hood, seorang ahli musik Amerika, yang membuat program gamelan Jawa dan Bali di University of California at Los Angeles (UCLA), setelah mempelajari gamelan secara langsung di Indonesia.

Tak berselang lama kemudian ia mengundang beberapa pengajar gamelan dari Indonesia, salah satunya Hardja Susilo dari Yogyakarta yang saat ini menjadi guru gamelan di Hawaii.

Sejak itulah berbagai Universitas di AS, seperti Wesleyan, University of California, Berkeley, Cornell, Yale dan Harvard mulai mengikuti jejak UCLA dengan mengadakan kelas gamelan di kampusnya. Ketika sebuah kampus memiliki instrumen gamelan, hal tersebut pun dianggap sebuah hal yang bergengsi bagi mereka.

“Gamelan menjadi satu tanda atau simbol eksklusif,” kata Andrew Clay McGraw (39), dosen jurusan Etnomusikologi di University of Richmond, Virginia, di mana tersedia mata kuliah gamelan yang juga diajarnya.

Beberapa diantara mahasiswa yang mengambil kelas gamelan meskipun dari latar belakang jurusan yang berbeda mengakui bahwa mereka jatuh cinta saat itu juga setelah mendengar suara alunan gamelan.

Andrew mengatakan bahwa orang Amerika menganggap bahwa gamelan merupakan sebuah hal yang berbeda sehingga dianggap keren karena merupakan hal yang baru bagi mereka meskpun sebetulnya di Indonesia sudah 1000 tahun yang lalu. Andrew pun memaklumi jika anak-anak Indonesia kurang tertarik pada gamelan karena mereka sudah pernah tahun sebelumnya sementara berbeda bagi orang Amerika yang menganggap gamelan sebuah hal yang baru. [noe/liputanislam.com]