Minggu, 18 Mei 2008

Ibu...4ku Rindu



Ibu


Ibu. . ........



Berulang mengulang namamu tak menjadi jemu
Senandung tidur untukku terus dan akan tetap berarti walau hingga kini tak henti terenggut waktu.



Serunai indah sembahan, nama para kekasih Tuhan ibu jejak dalam batin tak lelah menghangat ruh pemikiran diri.



Rekah cabang ruhani memuncak berkat gendongan penuh kasih.



Lentik akhlak berawal dari detak jantung.

Ajaran santun dalam buaian ibu.



Lakumu menjadi guru.

Betapa ucap qur'ani jua hiasan wudzu tak pernah lepas dari harimu.
Ibu



sungguh



semua menjadi kagum dan bangga



ketika para ibu mengikuti langkahmu



menapak jalan kinasih



putri nabi


Kamis, 15 Mei 2008

Mulla Shadra dan Mawlawi Rummi, (ringkasan)


Bag 1 Eksistensi dalam dua pandangan dua Towering Figure.

Ketika esensi eksistensi terurai pada berbagai kuiditas maka hal itu akan menjadikan setiap kuiditas tersebut berbeda antara satu dengan yang lain. Maulawi Rumi menyatakan asal dari berbagai generasi dan aktualisasi adalah tuhan, Dia yang nyata, yang independen, dan tidak membutuhkan apapun. Sedang yang lainnya adalah obyektif, tidak nyata,tergantung, lemah dan tergantung pada berbagai kebutuhan.Dia juga menjelaskan bahwa makhluk adalah eksistensi. Ini menunjukkan bahwa dia juga meyakini adanya kesatuan eksistensi (wahdat alwujud). Mulla Shadra menyatakan bahwa eksistensi tidak terpisah dari yang lain. Eksistensi yang wajib ada sampai yang bersifat non-material. Wujud yang suci Gradasi eksistensi yaitu suci dalam intensitas dan kelemahan dengan berbagai bentuknya. Intisari cosmos. Dua Towering figures ini Memberikan gambaran yang komprehensif tentang manusia.


Mauwlawi memandang tingkatan eksistensi sebagai satu lingkaran yang dibagi dalam dua bagian yaitu lengkungan naik dan lengkungan turun. Dimana titik tertinggi ditempati oleh Yang Maha Kuasa, Yang Wajib Ada, Yang Memiliki seluruh sifat kesempurnaan dalam Diri-Nya dan tidak terbatas. Didekat-Nya adalah Archtypes permanen atau bentuk abadi pengetahuan Tuhan yang belum memiliki sifat-sifat eksistensi. Eksistensi tersebut diadakan oleh eksistensi Tuhan meskipun ia berbeda dengan Tuhan.

Mulla Shadra Memandang bahwa eksistensi sebagai sesuatu yang memiliki dua bagian yaitu lengkungan turun dan lengkungan naik. Lengkungan turun atau perjalanan dari tuhan yang diawali dengan Yang Maha Wajib ada. Yang wajib ada merupakan eksistensi yang tidak terbatas dan tidak membutuhkan apapun. Segala sifat kesempurnaanNya juga tidak terbatas. Semua sifat kesempurnaan tersebut berada dalam esensin-Nya dan eksistensi-eksistensi yang lain akan bergantung padanya. Yang Wajib Ada menurut mula shadra merupakan eksistensi yang berbeda dengan ciptaan-ciptaan-Nya dan yang tidak terikat. Menurut Mawlawi turunnya eksistensi berhubungan dengan makhluk yang bermula dari eksistensi terpancar atau emanasi pertama(al wujud al munbasit) yang memancar pada makhluk lain yang lebih rendah serta muncul pada berbagai tingkatan bentuknya. Kemudian ada malaikat yang abstrak dan bentuk selanjutnya adalah dunia manusia yang memiliki jiwa abstrak, tingkat yang terakhir adalah dunia hewan, tumbuhan, dan tanah.

Proses arah naik eksistensi memiliki tingkatan yang sama dan menurut mawlawi, mata rantai eksistensi mulai dari tuhan kemudian turun sampai pada dunia tanah dapat kembali lagi pada Dia pada arah naik dengan kesempurnaan sekali lagi.

Mulla Shadra menyatakan bahwa tingkatan eksistensi selanjutnya adalah eksistensi di dunia intelek yang sifatnya abstrak dan bebas dari materi dalam berbagai bentuknya. Eksistensi dunia intelek memiliki peran sebagai mediator antara tuhan dan makhluk dan pada akhirnya akan menjadi penyebab terciptanya eksistensi lain. Eksistensi tertinggi dari eksistesi-Eksistensi tersebut adalah emanasi pertama, yang merupakan makhluk pertama ciptaan Tuhan. Emanasi tersebut telah mencapai tuhan dan tidak terdapat tirai diantara keduanya. Eksistensi didunia intelek tersebut menjadi mediator antara Tuhan dan makhluk lainya karena terdapat kemiripan antara makhluk ini dengan Tuhan yang suci dari segala macam ketidaksempurnaan disatu sisi, disisi lain karena memiliki kemiripan dengan makhluk yang lainnya.

Sifat-sifat pertama pada pandangan Mulla Shadra hampir sama dengan sifat eksistensi terpancar pada pandangan mawlawi. Lingkaran terakhir pada lingkaran dunia intelek adalah eksistensi yang disebut dengan intelek aktif yang merupakan asal dari segala generasi intelektual dan bentuk umum dan jiwa....Bersambung ke bag 2,..

Hari Besar Yang Tidak Besar




Hari Besar Nasional


Dinegara iran dikenal adanya Ruze Mualim (hari guru) sebuah hari besar yang berkaitan dengan proses pembangunan sumber daya masyarakat. Di negara yang beberapa tahun ini tersohor dengan program nuklirnya ini hari kesyahidan AyatTullah Muthahari dijadikan sebagai hari guru. Pada hari guru ini murid-murid dibudayakan untuk memberikan hadiah istimewa bagi guru mereka. Ada yang membuat lukisan, puisi, rangkaian bunga atau hadiah yang lain. Hal ini mungkin terlihat sederhana tapi tidak bisa dipungkiri hal ini memiliki dampak spesifik baik bagi murid maupun guru.


Penghormatan murid kepada guru sangatlah penting satu sisi menjadikan murid lebih menghargai keberadaan orang yang telah membantu membangun ruhani mereka itu. Disisi lain para pahlawan tanpa tanda jasa itu akan lebih bersemangat dengan pengabdian yang mereka lakukan. Andai budaya semacam ini dibudayakan dinegeri kita alangkah baiknya. Seingat saya peringatan hari guru hanya sekedar saja. Tidak ada upaya pencitraan lebih lanjut dari peringatan yang dilakukan.

Peringatan hari besar harus merupakan suatu iklan. Iklan yang mengajak warga negara untuk memberi perhatian sejenak dan mencecapi makna dari hari besar tersebut serta berusaha mengaplikasikan nilai-nilai dari hari besar negara itu (tentu peringatan disini adalah peringatan yang bersifat umum) Peringatan hari pahlawan pun tak pelak mendapat perlakuan yang tidak kalah menyedihkan, peringatan itu hanya berlangsung dalam waktu tidak lebih dari 1 jam. Pengejawantahan penghormatan dalam kehidupan berbangsa bernegara tidak begitu diperhatikan.


Apakah darah para pahlawan itu begitu kurang berharga untuk tidak dihargai? Bukankah kepergian mereka dengan meninggalkan beberapa anggota keluarga yang bergantung pada peras keringat mereka itu sudah cukup menjadi alasan? Bukankah para keluarga itu banyak yang menjadi terlantar setelah kepergian suami atau ayah mereka?.
Peringatan hari kemerdekaan bangsa hanya diisi dengan kegiatan makan kerupuk, balap karung, konser dangdut, atau kegiatan yang tidak menghantar pada penghayatan dari hari kemerdekaan. Masyarakat harus tahu apakah mereka sekarang setelah hidup berpuluh-puluh tahun setelah hari proklamasi benar-benar sudah menikmati fasilitas-fasilitas yang seharusnya didapatkan oleh orang yang tinggal dinegara merdeka atau belum?

The Two Clear Ways


Two Clear Ways Of Knowing God
First, an inward way (the closest way). Here we get in touch with our deep, inner self and we hear the cry of monotheism from within the depths of ourselves. In the corner of heart and spirit, one will sense a very subtle sound which is full of kindness and at the same time clear and firm, which calls one towards the great source of the univers and the power that we call God. The very pure that divinely created human nature of people.



When ones finds oneself facing problems and difficulties, when earthquake or hurricane comes. At this time when one is curtailed from all means of material life this sound gains strength. One senses that within one's self, a power is calling one the superior to all forces, a secret force and all difficulties seem simple before it. Its just like the story of the pharaoh when he saw that he was drowing in the waves of sea. His cry came from his soul. We also knom that there is a light shines from there which call to God. Perhaps there have been times when you have net with difficulties and problems and all of the usual ways of solving problems do not work. At that moment, the most certainly, we have seen that there is a force in the world which can easily solve it. This is the closest way which a person can take to god.



There is a question is the voice of monotheism (tauwhid) is the result of things which we have heard from our environment and our mother and father have told us or from school so it become very normal?we know that custom always changes. And we know also that fitrat is never change. For instance the love of mother for her child. This love is not come from propaganda or habit or custom. This love is come from fitrat. This love will never end and never changes.


As state by sociologist and historians, there has been no time in history when believe in god and faith did not exist among people. It is clear reason why the worship of God is from the depth of the spirit and it source is fitrat from human being, not that it is a result of customs we have eccepted because he it were the consequences of habit and custom it would not be so extensiv and eternal.


People who lived before history began had some kind of a belief system, they searched for God and looked for him among creatures and they made idols for them self of things in nature.


Human spirit has four sense, 1. The sense of knowledge, the thirsty for knowledge. 2. The sense of goodness, the source for moral and human issues in the world of humanity. 3. The sense of beauty, the source of art. 4. The sense of belief, which invite the human being to know God. And to implement his commands.


We also see that the materialists even admit to the existence of God, even though they do not mention his name. They they call it with "nature".

In our live some people that victories and succeses develops pride, but when the moment that storm of difficulties throw their life into chaos, the curtains of pride and selfishness moves away from their eyes and divinely created nature (fitrat) and monotheism appears. All of up is like a drawing of lion which are painted on flag we move and perhaps even attacks, but in reality have nothing from our self, it is strength is the wind which gives our power to move. We are have nothing from ourself it is God who has given this strength to us and whenever he will he can take it from us.


We can conclude that
1. A love for God has always axisted in us and will always continu.
2. Faith in God is an eternal flame which warns our heart and spirit.
Second, the outward way( the clearest way). Here we explore the expansive created world, and we see the univers. And take learn about God from it.

Jumat, 02 Mei 2008

Di Ufuk Senja Lapuknya Usia

Di Ufuk Senja Lapuknya Usia
Bergelantung diantara derit derit waktu pastilah melelahkan jiwa yang merdeka. Menggulung selaksa batin.

Hari perhitungan itu kini datang menyahuti nyawa yang mulai lapuk di perantauan. Undakan undakan ujian. Tingkat tingkat pencapaian. Mewajah waktu gundah kala terus lalai diselubung kesilapan. Tujuh mei kembali datang mengiring berputarnya tahun, terus bergulir dalam semilir hidup, hari yang bisa diurai dalam bermacam bentuk makna tergantung bagaimana pensifat mensikapi hidup, hari dimulainya penyampaian amanat. Kesempatan untuk mengurai kejadian yang telah berlalu. Merentang berbagai kejadian dari dua ujung waktu. Menyisir seluruh laksa, menata ulang serpihan langkah demi tahun yang lebih bermanfaat bagi sesama. Mengartikan dengan telanjang dari pakaian dosa dan seluruh nista. Berangkat dari kesadaran dengan apa apa yang ada dalam diri mengharap maaf dari siapapun yang terusik oleh ulah pribadi.
Bapak Ibu, sayang dan hormat terus mengiring bagi panjenengan berdua. Walau sebentar, sungguh terus berharap berkesempatan berhidmat kepada panjenengan berdua. Kiralah Dia Sang Pemegang hati meruang kerekahan kasih sayang bagi panjenengan kinasih ruh.



Pak Rohmad Siamto, Pak Dede Ruslan Muttaqin. Tonggak hidup telah kalian tancap dalam usia belasanku. Bersumber semangat dari toreh nasihat penuh hikmah. Bersama kalian mengusik Tuhan mengenal Dia dan melerai kejanggalan hati. Bersama meniti jalan nabi-nabi dan terbuka diri untuk terus mengorek din sejati, membenah, bersemangat meraih kebaikan insani. Semoga putra-putri didik panjenengan di madrasah tempat kalian berjuang menebar kembang peradaban, dipermudah dalam raihan kemuliaan dan menjadi pejuang nilai-nilai kebenaran. Penapak tapak kehakikian,. . . . semoga.

Bu Ahsani, Bu Tumpuk Susilowati, Bu Agus, Bu Lamidi trimakasih atas bimbing kritik dan bantuan kalian. dimanapun kalian berada saya ucap bangga, salut dan rasa bahagia atas juang yang kalian torehkan. Dengan seni keibuan, kalian telah merintis para tombak agama dan bangsa. Mencetak para pendekar dan bidadari di pesisir bumi.


Kaji hasan, Mas Bunari, Ustad Yusuf. All of you was helped me to open a part of science. Those that all of you said. Language is the key of the world. I will never forget it. Thanks for teaching me. I always hope both of your praying For all of my life. The real life.
Ustadz Imam, Ustadz Ruston, Ustadz Nur. Sukron katsir lidirosati quranukum ilaina. Qod fatahtukum dzihni nganhu. Afwan idza yujadu katsirun minal khoto i yuzahimukum.




Di ufuk senja lapuknya usia. Banyak hal tlah dilalui.
kini dengan besar hati Untuk kawan Sarmi, masfuanah, sukron makmun, Budi pakis, Yusuf, Rovik kristyo rini, punari jepara, Aan, Sigit, lukman kencong jember, Beni, Aris, budi banyuwangi, Mardi, Urfan bandung, mas Hadi jember, Ninik Suwarni sragen, Asri Fajar Mahmudah solo, Rio, mas Hendrik, Avon sidoarjo, Pungky blitar, Umam, Agus tegal, Baidi jepara, Sri Sadono, Ruhani sragen, Yanuar jakarta, Ali kalimantan, M4il makasar, Haidar, Hamzah semarang, yohana nganjuk, ihsan salatiga, Idrus hamid jakarta, Teh Nur bandung. Uzi, Rani, khusnul khotimah, and Zaenal my english tim.
Bersama kalian berlabuhku mengkaji, menggali, dan mengurai berbagai fenomena hidup. Tulisan dan ucapan kalian adalah inspirasi bagiku. Semangat dan bersemangatlah. Kalianlah pencetak generasi penerus bersama kekasih yang kalian sanding.
Li Ustadz Tsauban ustadz Salman wa sohibi khotim, wa Satrudin min sinegal, asykuru alaikum lidurusi lughotil ngarobiyati. Qod akhudztu auqotakum. Jaza ukum khoirol jaza wallahu maakum jamian.

Baroye oghoye muhammad natiq, lukmani, ke kheili zahmat mi kesidan tasyakur mikunam. Umidworam khudo baroye hameye sumo bistar rahmat taufik podos wa digar bedahad.